Kimia adalah ilmu aktif, berkembang yang penting
untuk dunia kita, baik dalam ilmu alam maupun ilmu sosial, seperti yang kita
akan pelajari, kimia adalah ilmu pengetahuan modern. Kita akan mulai pelajaran
kimia pada tingkat makroskopik, di mana kita bisa melihat dan mengukur bahan
yang darinya dunia kita dibuat. Pengembangan e-learning pembelajaran kimia
tidak jauh berbeda dengan pengembangan media pembelajaran lainnya, yaitu
merujuk salah satu teori pengembangan. Beberapa teori pengembangan Multi Media Interaktif
(MMI) diperkenalkan oleh Robert Philips, Kemo, Leisly, Borg&Gall dan
Alessi&Trollip.
E-Learning menggambarkan sebuah forum pembelajaran
besar, yang dilengkapi petunjuk yang dapat diikuti peserta didik untuk bekerja
pada saat yang bersamaan secara mandiri. Dalam hal ini, peserta didik belajar
dengan gayanya sendiri, mencari sumber-sumber/peralatan belajar dan bekerja secara
mandiri di rumahnya. Peserta didik dapat mengunjungi berbagai perpustakaan,
museum dan kejadian yang diakses secara online dari berbagai surat kabar dan
penulisan terdahulu. Berdasarkan beberapa keterangan tersebut di atas dapat
diperoleh konsep e-learning secara umum, yaitu suatu pembelajaran elektronik berbasis
Web (jaringan) atau TIK yang dibuat dengan prinsip dan metode tertentu sehingga
dapat digunakan sebagai media pembelajaran open sources yang menarik dan jelas
(visibility). Pembelajaran dengan e-learning memungkinkan peserta didik belajar
secara individual, kolaboratif, aktif, konstruktif, kontekstual, reflektif,
multisensory, serta mengasah berpikir tingkat tinggi, baik melalui aplikasi
internet maupun intranet.
Sedangkan prinsip-prinsip e-learning, Prakoso
(2005:6-8) membaginya menjadi enam prinsip, yaitu: (1) pusat kegiatan peserta
didik; (2) interaksi dalam group; (3) sistem administrasi siswa; (4) evaluasi;
(5) perpustakan digital; dan (6) materi online.
Clark & Meyer (2003: 1-2) juga mengklasifikasikan
prinsip e-learning menjadi enam prinsip, yaitu: (1) principles for including
media elements, (2) principles for creating online practice exercises, (3)
principles for leveraging examples in e-learning, (4) principles/guidelines for
online collaboration, (5) principles for learner control in e-learning, dan (6)
principles for building problem solving skills through e-learning
Dari enam prinsip tersebut, prinsip e-learning
pertama, yaitu tentang elemen media meliputi enam komponen yang harus
diperhatikan. Keenam komponen tersebut yaitu: multimedia (penggunaan beberapa
media untuk mengekspresikan pesan), contiguity (kecocokan antara teks dengan
alat bantu grafis), modality (gunakan alat bantu untuk memperjelas pesan), redundancy
(ketepatan alat bantu), coherency (alat bantu jangan berlebihan).
Pembelajaran berbasis web merupakan suatu
pembelajaran yang bisa diakses melalui jaringan internet. Pembelajaran berbasis
web yang popular dengan sebutan web-based traning (WBT) atau kadang juga
disebut web based education (WBE) dapat didefinisikan sebagai aplikasi
teknologi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan.Secara sederhana
dapat dikatakan bahwa semua pembelajaran yang memanfaatkan teknologi internet
dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya maka
kegiatan itu dapat disebut sabagai pemeblajaran berbasis web. (Rusman, 2011: 335)
Multimedia pembelajaran berbasis web merupakan
perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu
referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakar Software
Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa
perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean,
pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu model pembelajaran berbasis web
dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model yang
dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis,
desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis masalah dan
analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain pembelajaran dan
desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai komponen desain
pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran berbasis web.
Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan implementasi penuh.
Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi formatif dan evaluasi
sumatif.
Pengembangan desain pembelajaran untuk web
based learning dirancang sedemikian rupa agar proses pembelajaran
online tersebut dapat berjalan dengan efektif. Ada tiga elemen pokok yang harus
ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning tasks,
learning resources, dan learning supports. Learning tasks mencakup
aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik. Learning
resources memuat konten, informasi dan sumber-sumber yang dapat diakses
oleh peserta didik. Learning supports terkait dengan petunjuk
belajar, motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik (Ron
Oliver: 2001).
Sukartawi (2003) menyarankan beberapa tahap yang
perlu diperhatikan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis web.
Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis kebutuhan, rancangan instruksional,
pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap awal yang perlu dipertimbangkan
adalah apakah pembelajaran berbasis web memang dperlukan. Hal tersebut harus
disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lembaga pendidikan. Rancangan
instruksional meliputi aspek analisis konten, analisis peserta didik, dan
analisis komponen pembelajaran lainnya. Pengembangan e-learning merupakan
proses produksi program dengan mengintegrasikan berbagai software dan hardware yang
diperlukan. Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah
dihasilkan dan menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi
diperlukan dalam bentuk beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas
dan efektivitas program sebelum diimplementasikan secara formal.
Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu
memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Komponen-komponen utama dari
strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah: aktivitas awal pembelajaran,
penyajian materi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan aktivitas tindak
lanjut (Walter Dick, dkk, 2005: 197). Aktivitas awal pembelajaran berupa
pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan
menjelaskan kemampuan awal yang diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian
bahan ajar dan contoh-contoh yang relevan. Partisipasi peserta didik
dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat
berupa tes kemampuan awal,pretest, dan posttest. Aktivitas tindak lanjut
dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap materi
pembelajaran.
Apakah kelemahan dari e-learning dalam pembelajaran kimia dan bagaimana cara kita untuk mengatasinya ?
BalasHapuskalo menurut saya kelemahannya yaitu siswa tidak semua siswa dapat mengakses internet, dan tidak semua tempat mendukung aksesnya internet, dan guru juga sulit melihat keseriusan siswa dalam belajar, dan jika internet diakses melalui hp akan mengalami kesulitan menulis persamaan-persamaan reaksi dengan benar, untuk perhitungan yang ada dalam materi kimia juga agak sulit dilakukan jika hanya dijelaskan lewat e-learning, karena kita tahu jika perhitungan lebih baik dibahas langsung saat tatap muka.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusApakah e-learning sangat penting bagi pengajar ?
BalasHapusAdakah dampaknya untuk peserta didik ??
ya e-learning memang penting, karna memiliki beberapa keuntungan seperti dapat berdiskusi dengan siswa tanpa harus bertatap muka, namun tentu saja e-learning memiliki dampak bagi guru maupun peserta didik, untuk peserta didik sendiri dampaknya yaitu banyak siswa yang mengambil suatu informasi dari sumber yang tidak bisa di pertanggungjawabkan dan malah mengelirukan siswa tersebut, juga tidak semua siswa dapat mengikuti e-learning ini karena beberapa faktor seperti tempat dan fasilitas yang tersedia, dan siswa yang tidak memiliki motivasi cenderung gagal
HapusTolong anda jelaskan dan beri contoh tentang learning tasks, learning resources, dan learning supports?
BalasHapusLangkah pembelajaran dalam pembelajaran berbasis tugas dibagi menjadi tahap sebelum tugas, tahap tugas, dan tahap setelah tugas. Tahap sebelum tugas: 1)Guru menentukan kompetensi yang akan dikembangkan dan memilih jenis tugas yang sesuai. Sebagai contoh, kompetensi yang akan dikembangkan adalah mendiskripsikantempat (keterampilan berbicara) dan tugasnya adalah mendesain dua dimensi tata letakrumah idaman. 2)Guru menerangkan pada siswa kompetensi dan tugas yang akan mereka kerjakan. 3)Jika diperlukan, guru menerangkan dan melakukan drilling komponen bahasa tugas sepertikosa-kata, ungkapan dan struktur kalimat. 4)Guru memberi modelbagaimana tugas tersebut dilaksanakan. 5)Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompoksesuai kebutuhan Tahap tugas: 1)Siswa secara berkelompok melaksanakan tugas dan guru memonitor proses pelaksanaan tugas di tiap kelompok. 2)Setiap kelompokmelaporkan hasil tugas. Ketika kelompok menyajikan hasil tugas guru disarankan membimbing komunikasikelas, antara siswa dengan siswa dan antara guru dan siswa untuk tujuan klarifikasiatas informasi yang diberikan oleh penyaji. 3)Kalau diperlukan sebagai pekerjaan rumah , siswa menulis hasil tugas untuk dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya. Tahap setelah tugas: 1)Guru memberi masukanatas sajian siswa. 2)Guru melaksanakan refleksi
Hapustolong berikan suatu contoh kekurangan e-learning yang diterapkan dalam pembelajaran kimia. terima kasih.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapussaya ingin bertanya, apakah e-learning ini sudah banyak di terapkan di setiap sekolah sekolah di indonesia ?
BalasHapuskekurangannya adalah tidak semua materi bisa dijelaskan di e-learning, dan kita tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah siswa kita benar-benar paham dengan materi yang kita sampaikan di e-learning
BalasHapusmenurut saya untuk dibagian kota-kota jawa, seperti jakarta dan termasuk sekolah saya, beberapa pelajaran sudah menerapkan e-learning, kalau untuk sekolah-sekolah keseluruhan di indonesia menurut saya masih sedikit
BalasHapusPengertian e-learning berbeda dengan pembelajaran secara online (online learning) dan pembelajaran jarak jauh (distance learning). Online learning merupakan bagian dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian National Training Authority bahwa e-learning merupakan suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi lebih fleksibel. Online learning merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung dan luas cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak hanya melalui media elektronik tetapi bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance learning lebih menekankan pada ketidakhadiran pendidiksetiap waktu. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara umum e-learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang ada di lembaga pendidikan.
BalasHapusterimakasih saudari Agustiningsih atas penambahannya
Hapus